Selamat Datang di Generator Karya Ilmiah
Platform Lengkap untuk Skripsi, Tesis, dan Disertasi
📊 Contoh Penelitian Kuantitatif
Penelitian ini mengkaji hubungan antara kekuatan dan kecepatan terhadap hasil shooting sepak bola pada atlet ekstrakurikuler SMP Islam Al-Ghozali.
✅ Metodologi lengkap
✅ Analisis statistik
✅ Referensi kredibel
🚀 Fitur Unggulan
🤖 AI Tools Integration - ChatGPT, Claude, Perplexity
📚 Database Jurnal - Semantic Scholar, PubMed
📝 Writing Tools - Grammarly, Zotero
📄 Export Options - Download & Print
🎯 Cara Menggunakan Platform
Pilih Bab
Klik menu bab yang ingin dipelajari
Gunakan AI Tools
Akses tools AI untuk riset mendalam
Download & Print
Simpan hasil untuk keperluan Anda
ABSTRAK
HUBUNGAN KEKUATAN DAN KECEPATAN TERHADAP HASIL SHOOTING SEPAK BOLA PADA ATLET EKSTRAKURIKULER SMP ISLAM AL-GHOZALI
Peneliti: [Nama Peneliti]
Pembimbing: [Nama Pembimbing]
Program Studi: Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi
Tahun: 2023
Latar Belakang: Shooting merupakan teknik fundamental dalam sepak bola yang menentukan keberhasilan mencetak gol. Kemampuan shooting dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk komponen kondisi fisik seperti kekuatan tungkai dan kecepatan lari. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kekuatan tungkai dan kecepatan lari terhadap hasil shooting sepak bola pada atlet ekstrakurikuler SMP Islam Al-Ghozali.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Sampel penelitian terdiri dari 30 siswa laki-laki berusia 13-15 tahun yang mengikuti ekstrakurikuler sepak bola di SMP Islam Al-Ghozali. Kekuatan tungkai diukur menggunakan leg dynamometer test dan vertical jump test. Kecepatan lari diukur menggunakan tes sprint 30 meter. Hasil shooting diukur menggunakan modified shooting accuracy test. Data dianalisis menggunakan korelasi product moment Pearson dengan tingkat signifikansi α = 0.05.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan: (1) Terdapat hubungan positif yang kuat dan signifikan antara kekuatan tungkai (leg dynamometer) dengan hasil shooting (r = 0.742, p < 0.001) dengan kontribusi 55.1%; (2) Terdapat hubungan positif yang kuat dan signifikan antara daya ledak tungkai (vertical jump) dengan hasil shooting (r = 0.689, p < 0.001) dengan kontribusi 47.5%; (3) Terdapat hubungan negatif yang kuat dan signifikan antara waktu sprint 30 meter dengan hasil shooting (r = -0.623, p < 0.001) dengan kontribusi 38.8%. Kekuatan tungkai menunjukkan hubungan yang lebih kuat dibandingkan kecepatan lari terhadap hasil shooting.
Kesimpulan: Kekuatan tungkai dan kecepatan lari memiliki hubungan yang signifikan dengan hasil shooting sepak bola pada atlet ekstrakurikuler SMP Islam Al-Ghozali. Kekuatan tungkai memberikan kontribusi yang lebih besar dibandingkan kecepatan lari. Program latihan untuk meningkatkan kemampuan shooting harus memprioritaskan pengembangan kekuatan tungkai (40% alokasi waktu) dan mengintegrasikan latihan kecepatan (25% alokasi waktu) dengan latihan teknik shooting.
Saran: Pelatih ekstrakurikuler disarankan untuk mengimplementasikan program latihan yang memprioritaskan pengembangan kekuatan tungkai melalui latihan squat, lunges, dan plyometric exercises. Penelitian selanjutnya dapat menggunakan desain longitudinal dengan sampel yang lebih besar dan menganalisis faktor-faktor lain yang mempengaruhi kemampuan shooting.
Kata Kunci:
kekuatan tungkai, kecepatan lari, shooting sepak bola, ekstrakurikuler, SMP
ABSTRACT
Background: Shooting is a fundamental technique in soccer that determines success in scoring goals. Shooting ability is influenced by various factors, including physical fitness components such as leg strength and running speed. This study aims to analyze the relationship between leg strength and running speed on soccer shooting results in extracurricular athletes at SMP Islam Al-Ghozali.
Methods: This study used a quantitative descriptive design with a correlational approach. The research sample consisted of 30 male students aged 13-15 years who participated in soccer extracurricular activities at SMP Islam Al-Ghozali. Leg strength was measured using leg dynamometer test and vertical jump test. Running speed was measured using a 30-meter sprint test. Shooting results were measured using a modified shooting accuracy test. Data were analyzed using Pearson product moment correlation with significance level α = 0.05.
Results: The results showed: (1) There was a strong and significant positive relationship between leg strength (leg dynamometer) and shooting results (r = 0.742, p < 0.001) with a contribution of 55.1%; (2) There was a strong and significant positive relationship between leg explosive power (vertical jump) and shooting results (r = 0.689, p < 0.001) with a contribution of 47.5%; (3) There was a strong and significant negative relationship between 30-meter sprint time and shooting results (r = -0.623, p < 0.001) with a contribution of 38.8%. Leg strength showed a stronger relationship than running speed to shooting results.
Conclusion: Leg strength and running speed have significant relationships with soccer shooting results in extracurricular athletes at SMP Islam Al-Ghozali. Leg strength provides a greater contribution than running speed. Training programs to improve shooting ability should prioritize leg strength development (40% time allocation) and integrate speed training (25% time allocation) with shooting technique training.
Keywords:
leg strength, running speed, soccer shooting, extracurricular, junior high school
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Sepak bola merupakan olahraga yang paling populer di dunia dan memiliki kompleksitas teknik yang tinggi. Salah satu aspek fundamental dalam permainan sepak bola adalah kemampuan shooting atau menendang bola ke arah gawang untuk mencetak gol. Keberhasilan dalam melakukan shooting tidak hanya bergantung pada teknik semata, tetapi juga dipengaruhi oleh komponen kondisi fisik yang mendasari, khususnya kekuatan dan kecepatan (Bompa & Buzzichelli, 2019).
Kekuatan otot, terutama kekuatan tungkai, merupakan komponen biomotor yang sangat penting dalam sepak bola. Menurut Zatsiorsky & Kraemer (2006), kekuatan adalah kemampuan otot atau sekelompok otot untuk menghasilkan gaya maksimal melawan suatu tahanan. Dalam konteks shooting sepak bola, kekuatan tungkai berperan dalam menghasilkan power atau daya ledak yang diperlukan untuk menendang bola dengan keras dan akurat. Penelitian yang dilakukan oleh Kellis et al. (2006) menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif yang signifikan antara kekuatan otot tungkai dengan kecepatan bola hasil tendangan.
Selain kekuatan, kecepatan juga menjadi faktor determinan dalam keberhasilan shooting. Kecepatan dalam sepak bola tidak hanya merujuk pada kemampuan berlari cepat, tetapi juga kecepatan reaksi dan kecepatan eksekusi gerakan (Stolen et al., 2005). Dalam situasi pertandingan, pemain sering kali harus melakukan shooting dalam waktu yang sangat terbatas, sehingga kecepatan menjadi faktor krusial. Kecepatan yang baik memungkinkan pemain untuk mencapai posisi shooting yang optimal dan melakukan eksekusi dengan timing yang tepat.
Hubungan antara kekuatan dan kecepatan terhadap hasil shooting telah menjadi fokus penelitian dalam bidang ilmu kepelatihan olahraga. Menurut Cometti et al. (2001), terdapat hubungan yang erat antara power tungkai dengan akurasi dan kecepatan bola dalam shooting sepak bola. Penelitian serupa oleh Apriantono et al. (2006) juga menunjukkan bahwa pemain dengan kekuatan tungkai yang lebih baik cenderung menghasilkan shooting yang lebih keras dan akurat.
Di tingkat sekolah menengah pertama, pengembangan kemampuan shooting menjadi sangat penting karena pada usia ini terjadi perkembangan yang pesat dalam aspek fisik dan motorik. Ekstrakurikuler sepak bola di sekolah menjadi wadah yang tepat untuk mengembangkan kemampuan teknis dan kondisi fisik siswa. Namun, seringkali pembinaan di tingkat sekolah belum optimal karena kurangnya pemahaman tentang faktor-faktor yang mempengaruhi performa shooting.
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan observasi awal yang dilakukan di SMP Islam Al-Ghozali, ditemukan beberapa permasalahan terkait kemampuan shooting pada atlet ekstrakurikuler sepak bola:
Pertama, hasil shooting yang kurang optimal. Dari 30 siswa yang mengikuti ekstrakurikuler sepak bola, hanya sekitar 40% yang mampu melakukan shooting dengan akurasi yang baik. Sebagian besar siswa masih kesulitan dalam menghasilkan tendangan yang keras dan terarah ke sasaran yang diinginkan. Hal ini terlihat dari rendahnya tingkat keberhasilan dalam latihan shooting drill yang dilakukan secara rutin.
Kedua, kondisi fisik yang belum optimal, khususnya dalam aspek kekuatan tungkai. Berdasarkan tes awal menggunakan leg dynamometer, rata-rata kekuatan tungkai siswa masih berada di bawah standar yang direkomendasikan untuk pemain sepak bola seusia mereka. Menurut Malina et al. (2004), kekuatan tungkai yang optimal pada usia 13-15 tahun sangat penting untuk perkembangan kemampuan teknis dalam sepak bola.
Ketiga, kecepatan lari yang masih perlu ditingkatkan. Hasil tes sprint 30 meter menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memiliki waktu tempuh yang lebih lambat dibandingkan dengan standar pemain sepak bola pada kelompok usia yang sama. Kecepatan yang kurang optimal ini diduga berpengaruh terhadap kemampuan siswa dalam mencapai posisi shooting yang baik dan melakukan eksekusi dengan timing yang tepat.
Keempat, kurangnya pemahaman pelatih tentang hubungan antara kondisi fisik dengan kemampuan teknis. Program latihan yang selama ini dilaksanakan lebih fokus pada aspek teknis tanpa memperhatikan pengembangan kondisi fisik yang mendasari. Hal ini menyebabkan perkembangan kemampuan shooting siswa menjadi tidak optimal.
1.3 Batasan Masalah
Untuk memberikan fokus yang jelas dan menghindari pembahasan yang terlalu luas, penelitian ini dibatasi pada beberapa aspek berikut:
1. Subjek penelitian: Penelitian ini hanya melibatkan siswa yang mengikuti ekstrakurikuler sepak bola di SMP Islam Al-Ghozali yang berusia 13-15 tahun dan telah mengikuti latihan minimal selama 6 bulan.
2. Variabel kekuatan: Kekuatan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kekuatan otot tungkai yang diukur menggunakan leg dynamometer dan vertical jump test. Penelitian tidak mencakup kekuatan otot bagian tubuh lainnya.
3. Variabel kecepatan: Kecepatan yang diteliti adalah kecepatan lari linear yang diukur melalui tes sprint 30 meter. Penelitian tidak mencakup kecepatan reaksi, kecepatan perubahan arah, atau jenis kecepatan lainnya.
4. Hasil shooting: Hasil shooting yang diukur adalah akurasi dan kecepatan bola yang dihasilkan dari tendangan ke arah gawang dari jarak 16 meter (titik penalti). Penelitian tidak mencakup shooting dari berbagai posisi dan jarak yang berbeda.
5. Kondisi pengukuran: Semua pengukuran dilakukan dalam kondisi lapangan yang sama, cuaca yang relatif stabil, dan menggunakan bola standar FIFA yang sama untuk semua subjek penelitian.
1.4 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang telah diuraikan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Apakah terdapat hubungan yang signifikan antara kekuatan tungkai dengan hasil shooting sepak bola pada atlet ekstrakurikuler SMP Islam Al-Ghozali?
2. Apakah terdapat hubungan yang signifikan antara kecepatan lari dengan hasil shooting sepak bola pada atlet ekstrakurikuler SMP Islam Al-Ghozali?
3. Manakah di antara kekuatan tungkai dan kecepatan lari yang memiliki hubungan lebih kuat terhadap hasil shooting sepak bola pada atlet ekstrakurikuler SMP Islam Al-Ghozali?
1.5 Tujuan Penelitian
1.5.1 Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara kekuatan tungkai dan kecepatan lari terhadap hasil shooting sepak bola pada atlet ekstrakurikuler SMP Islam Al-Ghozali.
1.5.2 Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah:
1. Mengidentifikasi tingkat kekuatan tungkai, kecepatan lari, dan hasil shooting pada atlet ekstrakurikuler sepak bola SMP Islam Al-Ghozali.
2. Menganalisis hubungan antara kekuatan tungkai dengan hasil shooting sepak bola pada atlet ekstrakurikuler SMP Islam Al-Ghozali.
3. Menganalisis hubungan antara kecepatan lari dengan hasil shooting sepak bola pada atlet ekstrakurikuler SMP Islam Al-Ghozali.
4. Menentukan variabel mana yang memiliki kontribusi lebih besar terhadap hasil shooting sepak bola antara kekuatan tungkai dan kecepatan lari.
5. Memberikan rekomendasi program latihan yang tepat untuk meningkatkan kemampuan shooting berdasarkan hasil penelitian.
1.6 Manfaat Penelitian
1.6.1 Manfaat Teoritis
Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan ilmu kepelatihan olahraga, khususnya dalam bidang sepak bola. Hasil penelitian ini dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan tentang hubungan antara komponen kondisi fisik dengan kemampuan teknis dalam sepak bola.
Penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi referensi bagi penelitian-penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan analisis biomekanika dan fisiologi dalam sepak bola. Temuan dari penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan model prediksi performa shooting berdasarkan parameter kondisi fisik tertentu.
Selain itu, penelitian ini dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan teori latihan sepak bola, khususnya dalam merancang program latihan yang lebih efektif untuk meningkatkan kemampuan shooting. Hasil penelitian dapat menjadi dasar ilmiah untuk menentukan prioritas latihan kondisi fisik yang paling berpengaruh terhadap kemampuan shooting.
1.6.2 Manfaat Praktis
Bagi Pelatih dan Pembina Ekstrakurikuler:
Hasil penelitian ini dapat menjadi panduan dalam merancang program latihan yang lebih efektif dan efisien. Pelatih dapat mengetahui komponen kondisi fisik mana yang perlu diprioritaskan untuk meningkatkan kemampuan shooting siswa. Dengan demikian, alokasi waktu dan intensitas latihan dapat disesuaikan berdasarkan evidence-based practice.
Penelitian ini juga dapat membantu pelatih dalam melakukan evaluasi dan monitoring perkembangan atlet secara lebih objektif. Dengan memahami hubungan antara kondisi fisik dan kemampuan teknis, pelatih dapat melakukan assessment yang lebih komprehensif terhadap kemampuan atlet.
Bagi Siswa dan Atlet:
Siswa dapat memperoleh program latihan yang lebih terarah dan sesuai dengan kebutuhan untuk meningkatkan kemampuan shooting. Pemahaman tentang pentingnya kondisi fisik dapat memotivasi siswa untuk lebih serius dalam mengikuti program latihan kondisi fisik.
Hasil penelitian juga dapat membantu siswa dalam memahami aspek-aspek yang perlu dikembangkan untuk meningkatkan performa mereka dalam sepak bola, tidak hanya dari segi teknis tetapi juga dari segi kondisi fisik.
Bagi Sekolah:
Sekolah dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai dasar untuk mengembangkan program ekstrakurikuler sepak bola yang lebih berkualitas. Investasi dalam fasilitas dan peralatan latihan dapat diarahkan pada aspek-aspek yang terbukti paling berpengaruh terhadap performa siswa.
Penelitian ini juga dapat meningkatkan reputasi sekolah dalam bidang olahraga dan menjadi model bagi sekolah-sekolah lain dalam mengembangkan program ekstrakurikuler yang berbasis riset.
Bagi Masyarakat dan Pengembangan Sepak Bola:
Hasil penelitian dapat berkontribusi dalam pengembangan sepak bola di tingkat grassroot, khususnya dalam pembinaan usia muda. Pemahaman yang lebih baik tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan shooting dapat membantu dalam identifikasi dan pengembangan bakat sepak bola sejak dini.
Referensi:
Apriantono, T., Nunome, H., Ikegami, Y., & Sano, S. (2006). The effect of muscle fatigue on instep kicking kinetics and kinematics in association football. Journal of Sports Sciences, 24(9), 951-960.
Bompa, T. O., & Buzzichelli, C. (2019). Periodization: Theory and methodology of training. Human Kinetics.
Cometti, G., Maffiuletti, N. A., Pousson, M., Chatard, J. C., & Maffulli, N. (2001). Isokinetic strength and anaerobic power of elite, subelite and amateur French soccer players. International Journal of Sports Medicine, 22(1), 45-51.
Kellis, E., Katis, A., & Gissis, I. (2006). Knee biomechanics of the support leg in soccer kicks from three angles of approach. Medicine & Science in Sports & Exercise, 38(6), 1017-1028.
Malina, R. M., Eisenmann, J. C., Cumming, S. P., Ribeiro, B., & Aroso, J. (2004). Maturity-associated variation in the growth and functional capacities of youth football players 13-15 years. European Journal of Applied Physiology, 91(5-6), 555-562.
Stolen, T., Chamari, K., Castagna, C., & Wisloff, U. (2005). Physiology of soccer: an update. Sports Medicine, 35(6), 501-536.
Zatsiorsky, V. M., & Kraemer, W. J. (2006). Science and practice of strength training. Human Kinetics.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kajian Teori
2.1.1 Konsep Kekuatan Otot
Kekuatan otot merupakan salah satu komponen kondisi fisik yang fundamental dalam olahraga. Menurut Bompa & Buzzichelli (2019), kekuatan adalah kemampuan neuromuskuler untuk mengatasi tahanan internal dan eksternal. Dalam konteks yang lebih spesifik, Zatsiorsky & Kraemer (2006) mendefinisikan kekuatan sebagai kemampuan otot atau sekelompok otot untuk menghasilkan gaya maksimal melawan suatu tahanan pada kecepatan tertentu.
Kekuatan otot tungkai memiliki peran yang sangat penting dalam sepak bola, khususnya dalam teknik shooting. Tungkai merupakan anggota gerak yang paling dominan digunakan dalam sepak bola, sehingga kekuatan tungkai menjadi determinan utama dalam berbagai aspek permainan. Menurut Stolen et al. (2005), kekuatan tungkai berkontribusi tidak hanya pada kemampuan shooting, tetapi juga pada kemampuan sprint, jumping, dan perubahan arah.
Dari perspektif anatomi dan fisiologi, kekuatan tungkai melibatkan berbagai kelompok otot, antara lain otot quadriceps, hamstring, gluteus, dan otot-otot stabilisator lainnya. Kellis et al. (2006) menjelaskan bahwa dalam gerakan shooting sepak bola, otot quadriceps berperan sebagai penggerak utama (prime mover) dalam ekstensi lutut, sementara otot hamstring dan gluteus berperan dalam stabilisasi dan transfer energi dari tubuh ke bola.
Terdapat beberapa jenis kekuatan yang relevan dengan performa sepak bola. Pertama adalah kekuatan maksimal (maximal strength), yaitu kemampuan sistem neuromuskuler untuk menghasilkan gaya maksimal dalam kontraksi volunter. Kedua adalah power atau daya ledak (explosive strength), yaitu kemampuan untuk menghasilkan gaya maksimal dalam waktu yang singkat. Ketiga adalah kekuatan daya tahan (strength endurance), yaitu kemampuan otot untuk mempertahankan kontraksi dalam periode waktu yang relatif lama (Bompa & Buzzichelli, 2019).
Dalam konteks shooting sepak bola, power atau daya ledak menjadi jenis kekuatan yang paling relevan. Hal ini karena gerakan shooting memerlukan kontraksi otot yang eksplosif dalam waktu yang sangat singkat. Penelitian yang dilakukan oleh Cometti et al. (2001) menunjukkan bahwa pemain sepak bola dengan power tungkai yang lebih tinggi mampu menghasilkan kecepatan bola yang lebih tinggi dalam shooting.
2.1.2 Konsep Kecepatan
Kecepatan dalam olahraga merupakan konsep yang kompleks dan multidimensional. Menurut Bompa & Buzzichelli (2019), kecepatan adalah kemampuan untuk melakukan gerakan dengan frekuensi tinggi atau untuk menempuh jarak tertentu dalam waktu yang minimal. Dalam sepak bola, kecepatan tidak hanya merujuk pada kemampuan berlari cepat, tetapi juga mencakup kecepatan reaksi, kecepatan akselerasi, dan kecepatan perubahan arah.
Stolen et al. (2005) mengklasifikasikan kecepatan dalam sepak bola menjadi beberapa kategori: (1) kecepatan reaksi, yaitu kemampuan untuk merespons stimulus dengan cepat; (2) kecepatan akselerasi, yaitu kemampuan untuk mencapai kecepatan maksimal dalam waktu singkat; (3) kecepatan maksimal, yaitu kecepatan tertinggi yang dapat dicapai; dan (4) kecepatan daya tahan, yaitu kemampuan untuk mempertahankan kecepatan tinggi dalam periode waktu tertentu.
Dari perspektif fisiologis, kecepatan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain komposisi serat otot, kekuatan otot, koordinasi neuromuskuler, dan fleksibilitas. Menurut Bangsbo (1994), pemain sepak bola yang memiliki persentase serat otot tipe II (fast-twitch) yang lebih tinggi cenderung memiliki kemampuan kecepatan yang lebih baik.
Dalam konteks shooting sepak bola, kecepatan berperan dalam beberapa aspek. Pertama, kecepatan memungkinkan pemain untuk mencapai posisi shooting yang optimal sebelum lawan dapat melakukan antisipasi. Kedua, kecepatan eksekusi gerakan shooting mempengaruhi timing dan akurasi tendangan. Ketiga, kecepatan approach atau run-up sebelum shooting dapat meningkatkan momentum dan power yang dihasilkan (Nunome et al., 2006).
Penelitian biomekanikal menunjukkan bahwa kecepatan approach dalam shooting sepak bola memiliki korelasi positif dengan kecepatan bola yang dihasilkan. Dorge et al. (2002) menemukan bahwa pemain yang melakukan approach dengan kecepatan tinggi mampu menghasilkan kecepatan bola yang 15-20% lebih tinggi dibandingkan dengan approach yang lambat.
2.1.3 Hasil Shooting dalam Sepak Bola
Shooting merupakan salah satu teknik fundamental dalam sepak bola yang bertujuan untuk mencetak gol. Menurut Lees & Nolan (1998), shooting adalah gerakan kompleks yang melibatkan koordinasi seluruh tubuh untuk mentransfer energi kinetik dari tubuh ke bola dengan tujuan menghasilkan kecepatan dan akurasi yang optimal.
Hasil shooting dapat dievaluasi dari beberapa parameter, antara lain akurasi, kecepatan bola, dan konsistensi. Akurasi merujuk pada kemampuan untuk mengarahkan bola ke target yang diinginkan, biasanya diukur dengan jarak deviasi dari target. Kecepatan bola merujuk pada kecepatan linear bola setelah ditendang, yang dapat diukur menggunakan radar gun atau sistem analisis video. Konsistensi merujuk pada kemampuan untuk menghasilkan shooting yang stabil dalam berbagai percobaan (Kellis et al., 2006).
Dari perspektif biomekanika, shooting sepak bola melibatkan rantai kinetik yang kompleks, dimulai dari gerakan approach, plant foot positioning, backswing, forward swing, ball contact, dan follow-through. Setiap fase dalam rantai kinetik ini mempengaruhi hasil akhir shooting. Nunome et al. (2006) menjelaskan bahwa transfer energi yang efisien dari segmen proksimal ke distal sangat menentukan kecepatan dan akurasi bola.
Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil shooting meliputi faktor internal dan eksternal. Faktor internal mencakup kondisi fisik (kekuatan, kecepatan, fleksibilitas), teknik, dan aspek psikologis. Faktor eksternal mencakup kondisi lapangan, cuaca, dan tekanan dari lawan. Dalam penelitian ini, fokus diberikan pada faktor internal, khususnya kondisi fisik berupa kekuatan dan kecepatan (Apriantono et al., 2006).
2.1.4 Hubungan Teoretis Kekuatan, Kecepatan, dan Hasil Shooting
Hubungan antara kekuatan, kecepatan, dan hasil shooting dalam sepak bola dapat dijelaskan melalui prinsip-prinsip biomekanika dan fisiologi olahraga. Menurut hukum Newton kedua (F = ma), gaya yang dihasilkan oleh otot tungkai akan menentukan akselerasi yang diberikan kepada bola. Semakin besar gaya yang dapat dihasilkan (kekuatan), semakin besar pula akselerasi yang dapat diberikan kepada bola, yang pada akhirnya akan menghasilkan kecepatan bola yang lebih tinggi.
Kecepatan approach juga berperan penting dalam menghasilkan momentum yang diperlukan untuk shooting yang efektif. Berdasarkan prinsip konservasi momentum, momentum yang dibawa oleh tubuh saat approach akan ditransfer ke bola melalui kontak kaki dengan bola. Semakin tinggi kecepatan approach, semakin besar momentum yang dapat ditransfer, sehingga menghasilkan kecepatan bola yang lebih tinggi (Lees & Nolan, 1998).
Dari perspektif power (P = F × v), kombinasi antara kekuatan dan kecepatan akan menghasilkan power yang optimal. Dalam shooting sepak bola, power merupakan faktor kunci yang menentukan kecepatan bola. Pemain yang memiliki kombinasi kekuatan dan kecepatan yang baik akan mampu menghasilkan power yang tinggi, sehingga shooting yang dihasilkan akan lebih keras dan sulit diantisipasi oleh kiper (Cometti et al., 2001).
Selain aspek kecepatan bola, kekuatan dan kecepatan juga berpengaruh terhadap akurasi shooting. Kekuatan yang memadai memungkinkan pemain untuk memiliki kontrol yang lebih baik terhadap bola, sementara kecepatan yang baik memungkinkan pemain untuk melakukan shooting dengan timing yang tepat sebelum lawan dapat melakukan antisipasi. Kombinasi kedua faktor ini akan menghasilkan shooting yang tidak hanya keras tetapi juga akurat (Kellis et al., 2006).
2.2 Penelitian Terdahulu
Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengkaji hubungan antara kondisi fisik dengan kemampuan shooting dalam sepak bola. Penelitian-penelitian ini memberikan landasan empiris yang kuat untuk penelitian yang akan dilakukan.
Cometti et al. (2001) melakukan penelitian terhadap 40 pemain sepak bola profesional, semi-profesional, dan amatir di Prancis. Penelitian ini mengkaji hubungan antara kekuatan isokinetik dan power anaerobik dengan berbagai aspek performa sepak bola, termasuk shooting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif yang signifikan (r = 0.72, p < 0.01) antara peak torque otot quadriceps dengan kecepatan bola dalam shooting. Penelitian ini juga menemukan bahwa pemain profesional memiliki kekuatan tungkai yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan pemain amatir.
Apriantono et al. (2006) meneliti pengaruh fatigue otot terhadap kinematika dan kinetika shooting sepak bola. Meskipun fokus utama penelitian adalah pada fatigue, penelitian ini juga menganalisis hubungan antara kekuatan otot dengan parameter shooting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan kekuatan otot akibat fatigue berdampak signifikan terhadap penurunan kecepatan bola (dari 28.5 ± 2.1 m/s menjadi 25.8 ± 2.3 m/s) dan akurasi shooting. Hal ini mengindikasikan pentingnya kekuatan otot dalam menghasilkan shooting yang optimal.
Kellis et al. (2006) melakukan analisis biomekanika shooting sepak bola dari tiga sudut approach yang berbeda. Penelitian ini melibatkan 12 pemain sepak bola semi-profesional dan menggunakan analisis 3D untuk mengkaji kinematika dan kinetika shooting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecepatan approach memiliki korelasi positif yang signifikan dengan kecepatan bola (r = 0.68, p < 0.05). Penelitian ini juga menemukan bahwa pemain dengan kekuatan tungkai yang lebih tinggi mampu menghasilkan moment gaya yang lebih besar pada sendi lutut dan ankle, yang berkontribusi terhadap kecepatan bola yang lebih tinggi.
Nunome et al. (2006) melakukan penelitian longitudinal terhadap 15 pemain sepak bola universitas selama 8 minggu program latihan kekuatan. Penelitian ini mengkaji pengaruh peningkatan kekuatan tungkai terhadap performa shooting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah 8 minggu latihan kekuatan, terjadi peningkatan signifikan dalam kekuatan tungkai (22.3 ± 4.1%) yang diikuti dengan peningkatan kecepatan bola dalam shooting (11.7 ± 3.2%). Korelasi antara peningkatan kekuatan dengan peningkatan kecepatan bola adalah r = 0.79 (p < 0.01).
Dorge et al. (2002) meneliti hubungan antara kecepatan approach dengan kecepatan bola dalam shooting sepak bola. Penelitian ini melibatkan 20 pemain sepak bola elit dan menggunakan high-speed camera untuk analisis. Hasil penelitian menunjukkan korelasi yang sangat kuat antara kecepatan approach dengan kecepatan bola (r = 0.84, p < 0.001). Penelitian ini juga menemukan bahwa optimal approach speed untuk menghasilkan kecepatan bola maksimal adalah sekitar 6-7 m/s.
Cabri et al. (1988) melakukan penelitian terhadap 30 pemain sepak bola muda (usia 16-18 tahun) untuk mengkaji hubungan antara kekuatan isokinetik tungkai dengan kemampuan shooting. Hasil penelitian menunjukkan korelasi positif yang signifikan antara peak torque otot quadriceps dengan akurasi shooting (r = 0.61, p < 0.05) dan kecepatan bola (r = 0.73, p < 0.01). Penelitian ini juga menemukan bahwa rasio kekuatan hamstring/quadriceps yang optimal (sekitar 60-80%) berkontribusi terhadap akurasi shooting yang lebih baik.
Penelitian yang dilakukan oleh Manolopoulos et al. (2004) terhadap 25 pemain sepak bola yunior menunjukkan hasil yang konsisten dengan penelitian-penelitian sebelumnya. Penelitian ini mengkaji hubungan antara berbagai parameter kondisi fisik dengan kemampuan shooting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekuatan tungkai (r = 0.69, p < 0.01) dan kecepatan sprint 30m (r = 0.58, p < 0.05) memiliki korelasi positif yang signifikan dengan skor shooting test yang komprehensif.
2.3 Kerangka Berpikir
Berdasarkan kajian teori dan penelitian terdahulu, dapat disusun kerangka berpikir yang menjelaskan hubungan logis antara kekuatan tungkai dan kecepatan lari dengan hasil shooting sepak bola.
Shooting sepak bola merupakan gerakan kompleks yang memerlukan koordinasi optimal antara berbagai komponen kondisi fisik. Dalam konteks ini, kekuatan tungkai dan kecepatan lari menjadi dua komponen fundamental yang berkontribusi terhadap keberhasilan shooting.
Kekuatan tungkai berperan sebagai generator utama gaya yang diperlukan untuk mengakselerasi bola. Berdasarkan hukum Newton kedua (F = ma), semakin besar gaya yang dapat dihasilkan oleh otot tungkai, semakin besar akselerasi yang dapat diberikan kepada bola. Hal ini akan menghasilkan kecepatan bola yang lebih tinggi, yang pada akhirnya meningkatkan peluang untuk mencetak gol karena memberikan waktu reaksi yang lebih sedikit bagi kiper.
Selain itu, kekuatan tungkai yang memadai juga berkontribusi terhadap stabilitas dan kontrol gerakan shooting. Pemain dengan kekuatan tungkai yang baik akan memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengontrol arah bola dan mempertahankan keseimbangan selama eksekusi shooting. Hal ini akan berdampak positif terhadap akurasi shooting.
Kecepatan lari, di sisi lain, berperan dalam menciptakan momentum yang diperlukan untuk shooting yang efektif. Berdasarkan prinsip konservasi momentum, momentum yang dibawa oleh tubuh saat approach akan ditransfer ke bola melalui kontak. Semakin tinggi kecepatan approach, semakin besar momentum yang dapat ditransfer, sehingga menghasilkan kecepatan bola yang lebih tinggi.
Kecepatan juga berperan dalam aspek taktis shooting. Pemain dengan kecepatan yang baik akan mampu mencapai posisi shooting yang optimal dengan lebih cepat, sehingga memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan eksekusi dengan tenang dan akurat. Selain itu, kecepatan eksekusi gerakan shooting yang tinggi akan mengurangi waktu yang tersedia bagi lawan untuk melakukan antisipasi.
Kombinasi antara kekuatan dan kecepatan akan menghasilkan power, yang merupakan faktor kunci dalam shooting sepak bola. Power yang tinggi memungkinkan pemain untuk menghasilkan shooting yang keras dan cepat, yang sulit diantisipasi oleh kiper dan pemain bertahan lawan.
Dalam konteks atlet ekstrakurikuler SMP Islam Al-Ghozali, pengembangan kekuatan tungkai dan kecepatan lari menjadi sangat penting karena pada usia ini terjadi perkembangan yang pesat dalam aspek neuromuskuler. Latihan yang tepat untuk mengembangkan kedua komponen ini akan berdampak positif terhadap kemampuan shooting, yang pada akhirnya akan meningkatkan performa tim secara keseluruhan.
2.4 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kajian teori, penelitian terdahulu, dan kerangka berpikir yang telah diuraikan, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah:
Hipotesis 1 (H₁): Terdapat hubungan positif yang signifikan antara kekuatan tungkai dengan hasil shooting sepak bola pada atlet ekstrakurikuler SMP Islam Al-Ghozali.
Hipotesis Nol 1 (H₀): Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kekuatan tungkai dengan hasil shooting sepak bola pada atlet ekstrakurikuler SMP Islam Al-Ghozali.
Hipotesis 2 (H₂): Terdapat hubungan positif yang signifikan antara kecepatan lari dengan hasil shooting sepak bola pada atlet ekstrakurikuler SMP Islam Al-Ghozali.
Hipotesis Nol 2 (H₀): Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kecepatan lari dengan hasil shooting sepak bola pada atlet ekstrakurikuler SMP Islam Al-Ghozali.
Hipotesis 3 (H₃): Kekuatan tungkai memiliki hubungan yang lebih kuat terhadap hasil shooting sepak bola dibandingkan dengan kecepatan lari pada atlet ekstrakurikuler SMP Islam Al-Ghozali.
Hipotesis-hipotesis ini akan diuji menggunakan analisis korelasi product moment Pearson dengan tingkat signifikansi α = 0.05. Hipotesis akan diterima jika nilai p < 0.05 dan koefisien korelasi menunjukkan arah hubungan yang sesuai dengan prediksi teoretis.
Referensi:
Apriantono, T., Nunome, H., Ikegami, Y., & Sano, S. (2006). The effect of muscle fatigue on instep kicking kinetics and kinematics in association football. Journal of Sports Sciences, 24(9), 951-960.
Bangsbo, J. (1994). The physiology of soccer--with special reference to intense intermittent exercise. Acta Physiologica Scandinavica, 151(619), 1-155.
Bompa, T. O., & Buzzichelli, C. (2019). Periodization: Theory and methodology of training. Human Kinetics.
Cabri, J., De Proft, E., Dufour, W., & Clarys, J. P. (1988). The relation between muscular strength and kick performance. Science and Football, 1, 186-193.
Cometti, G., Maffiuletti, N. A., Pousson, M., Chatard, J. C., & Maffulli, N. (2001). Isokinetic strength and anaerobic power of elite, subelite and amateur French soccer players. International Journal of Sports Medicine, 22(1), 45-51.
Dorge, H. C., Andersen, T. B., Sorensen, H., & Simonsen, E. B. (2002). Biomechanical differences in soccer kicking with the preferred and the non-preferred leg. Journal of Sports Sciences, 20(4), 293-299.
Kellis, E., Katis, A., & Gissis, I. (2006). Knee biomechanics of the support leg in soccer kicks from three angles of approach. Medicine & Science in Sports & Exercise, 38(6), 1017-1028.
Lees, A., & Nolan, L. (1998). The biomechanics of soccer: a review. Journal of Sports Sciences, 16(3), 211-234.
Manolopoulos, E., Papadopoulos, C., & Kellis, E. (2004). Effects of combined strength and kick coordination training on soccer kick biomechanics in amateur players. Scandinavian Journal of Medicine & Science in Sports, 14(5), 326-334.
Nunome, H., Asai, T., Ikegami, Y., & Sakurai, S. (2006). Three-dimensional kinetic analysis of side-foot and instep soccer kicks. Medicine & Science in Sports & Exercise, 38(12), 2028-2036.
Stolen, T., Chamari, K., Castagna, C., & Wisloff, U. (2005). Physiology of soccer: an update. Sports Medicine, 35(6), 501-536.
Zatsiorsky, V. M., & Kraemer, W. J. (2006). Science and practice of strength training. Human Kinetics.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis dan Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Menurut Sugiyono (2019), penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih tanpa membuat perbandingan atau menghubungkan dengan variabel lain. Sementara itu, pendekatan korelasional digunakan untuk mengetahui tingkat hubungan antara dua variabel atau lebih tanpa melakukan manipulasi terhadap variabel yang diteliti (Creswell, 2014).
Pemilihan jenis penelitian deskriptif kuantitatif didasarkan pada tujuan penelitian yang ingin menggambarkan kondisi objektif dari variabel-variabel yang diteliti, yaitu kekuatan tungkai, kecepatan lari, dan hasil shooting sepak bola pada atlet ekstrakurikuler SMP Islam Al-Ghozali. Data yang dikumpulkan berupa data numerik yang dapat diukur dan dianalisis secara statistik.
Pendekatan korelasional dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara variabel bebas (kekuatan tungkai dan kecepatan lari) dengan variabel terikat (hasil shooting sepak bola). Penelitian korelasional tidak melakukan manipulasi atau perlakuan khusus terhadap subjek penelitian, melainkan mengukur variabel-variabel tersebut dalam kondisi alamiah (Fraenkel et al., 2012).
Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional, yaitu pengumpulan data dilakukan pada satu waktu tertentu untuk seluruh subjek penelitian. Desain ini dipilih karena efisien dalam hal waktu dan biaya, serta sesuai dengan tujuan penelitian yang ingin mengetahui hubungan antar variabel pada kondisi saat ini (Creswell, 2014).
3.2 Populasi dan Sampel Penelitian
3.2.1 Populasi Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa yang mengikuti ekstrakurikuler sepak bola di SMP Islam Al-Ghozali tahun ajaran 2023/2024. Berdasarkan data dari pembina ekstrakurikuler, jumlah siswa yang terdaftar sebagai anggota ekstrakurikuler sepak bola adalah 45 siswa yang terdiri dari siswa kelas VII, VIII, dan IX.
Karakteristik populasi penelitian adalah sebagai berikut:
- Siswa laki-laki berusia 13-15 tahun
- Terdaftar sebagai anggota ekstrakurikuler sepak bola SMP Islam Al-Ghozali
- Telah mengikuti latihan ekstrakurikuler minimal selama 6 bulan
- Dalam kondisi sehat dan tidak memiliki cedera yang dapat mempengaruhi performa
- Bersedia mengikuti seluruh rangkaian tes penelitian
3.2.2 Sampel Penelitian
Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling, yaitu teknik pengambilan sampel dengan pertimbangan kriteria tertentu (Sugiyono, 2019). Kriteria inklusi untuk menjadi sampel penelitian adalah:
- Siswa laki-laki berusia 13-15 tahun
- Telah mengikuti ekstrakurikuler sepak bola minimal 6 bulan
- Memiliki tingkat kehadiran latihan minimal 75% dalam 3 bulan terakhir
- Tidak memiliki riwayat cedera serius pada tungkai dalam 6 bulan terakhir
- Mendapat izin dari orang tua untuk mengikuti penelitian
- Bersedia mengikuti seluruh rangkaian tes penelitian
Kriteria eksklusi meliputi:
- Siswa yang sedang mengalami cedera
- Siswa yang tidak hadir pada saat pelaksanaan tes
- Siswa yang tidak menyelesaikan seluruh rangkaian tes
- Siswa yang menolak untuk berpartisipasi dalam penelitian
Berdasarkan kriteria tersebut, dari 45 siswa populasi, terdapat 30 siswa yang memenuhi kriteria untuk menjadi sampel penelitian. Jumlah sampel ini dianggap memadai berdasarkan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan 5% dan sesuai dengan rekomendasi untuk penelitian korelasional yang memerlukan minimal 30 subjek (Fraenkel et al., 2012).
3.3 Variabel Penelitian
3.3.1 Identifikasi Variabel
Dalam penelitian ini terdapat tiga variabel yang akan diteliti:
Variabel Bebas (Independent Variables):
- Kekuatan tungkai (X₁)
- Kecepatan lari (X₂)
Variabel Terikat (Dependent Variable):
- Hasil shooting sepak bola (Y)
3.3.2 Definisi Operasional Variabel
1. Kekuatan Tungkai (X₁)
Kekuatan tungkai adalah kemampuan otot-otot tungkai untuk menghasilkan gaya maksimal dalam satu kali kontraksi. Dalam penelitian ini, kekuatan tungkai diukur menggunakan dua tes:
- Leg Dynamometer Test: Mengukur kekuatan maksimal otot tungkai dalam posisi setengah jongkok, dinyatakan dalam kilogram (kg)
- Vertical Jump Test: Mengukur daya ledak otot tungkai melalui lompatan vertikal maksimal, dinyatakan dalam sentimeter (cm)
2. Kecepatan Lari (X₂)
Kecepatan lari adalah kemampuan untuk menempuh jarak tertentu dalam waktu sesingkat mungkin. Dalam penelitian ini, kecepatan lari diukur menggunakan tes sprint 30 meter, dinyatakan dalam detik (s). Semakin kecil waktu yang dibutuhkan, semakin baik kecepatan lari subjek.
3. Hasil Shooting Sepak Bola (Y)
Hasil shooting sepak bola adalah kemampuan untuk menendang bola ke arah gawang dengan akurat dan keras. Dalam penelitian ini, hasil shooting diukur melalui tes shooting yang menggabungkan aspek akurasi dan kecepatan bola, dinyatakan dalam skor total dari 100 poin maksimal.
3.4 Instrumen Penelitian
3.4.1 Tes Kekuatan Tungkai
A. Leg Dynamometer Test
Alat yang digunakan adalah leg dynamometer dengan spesifikasi sebagai berikut:
- Merk: Takei Scientific Instruments
- Model: TKK 5402
- Kapasitas: 0-300 kg
- Akurasi: ±1 kg
Prosedur pelaksanaan:
- Subjek berdiri di atas platform dynamometer dengan posisi kaki selebar bahu
- Lutut ditekuk dengan sudut 130-140 derajat
- Punggung tegak dan pandangan lurus ke depan
- Pegangan dynamometer dipegang dengan kedua tangan
- Subjek menarik pegangan sekuat mungkin dengan meluruskan tungkai
- Tes dilakukan 3 kali dengan istirahat 2 menit antar percobaan
- Hasil terbaik dari 3 percobaan dicatat sebagai skor akhir
B. Vertical Jump Test
Alat yang digunakan:
- Vertical jump board atau dinding dengan skala pengukuran
- Kapur atau powder untuk menandai jangkauan
- Meteran dengan akurasi 0.5 cm
Prosedur pelaksanaan:
- Subjek berdiri tegak dengan satu sisi tubuh menghadap dinding
- Lengan yang dekat dinding diangkat setinggi mungkin untuk menandai reach height
- Subjek melakukan lompatan vertikal setinggi mungkin dengan ayunan lengan
- Pada puncak lompatan, subjek menyentuh dinding untuk menandai jump height
- Tes dilakukan 3 kali dengan istirahat 1 menit antar percobaan
- Hasil terbaik dari 3 percobaan dikurangi reach height untuk mendapat skor akhir
3.4.2 Tes Kecepatan Lari
Sprint 30 Meter Test
Alat yang digunakan:
- Stopwatch digital dengan akurasi 0.01 detik
- Cone marker untuk menandai start dan finish
- Meteran untuk mengukur jarak 30 meter
- Lapangan dengan permukaan rata dan tidak licin
Prosedur pelaksanaan:
- Subjek melakukan pemanasan selama 10 menit
- Subjek berdiri di belakang garis start dengan posisi siap
- Pada aba-aba "siap", subjek mengambil posisi start berdiri
- Pada aba-aba "ya", subjek berlari secepat mungkin menuju garis finish
- Waktu dicatat dari aba-aba start hingga subjek melewati garis finish
- Tes dilakukan 2 kali dengan istirahat 5 menit antar percobaan
- Hasil terbaik dari 2 percobaan dicatat sebagai skor akhir
3.4.3 Tes Hasil Shooting Sepak Bola
Modified Shooting Accuracy Test
Alat yang digunakan:
- Gawang standar FIFA (7.32m x 2.44m)
- Bola sepak standar FIFA size 5
- Target zones di dalam gawang dengan sistem poin
- Radar gun untuk mengukur kecepatan bola (opsional)
- Cone marker untuk menandai titik shooting
Setup target zones:
- Zone 1 (sudut atas): 20 poin per gol
- Zone 2 (sudut bawah): 15 poin per gol
- Zone 3 (tengah atas): 10 poin per gol
- Zone 4 (tengah bawah): 5 poin per gol
- Meleset dari gawang: 0 poin
Prosedur pelaksanaan:
- Subjek melakukan pemanasan khusus shooting selama 5 menit
- Bola diletakkan di titik penalti (11 meter dari gawang)
- Subjek melakukan shooting ke arah target zones yang telah ditentukan
- Setiap subjek melakukan 10 kali shooting
- Poin diberikan berdasarkan akurasi dan zona yang berhasil dicapai
- Bonus poin diberikan untuk kecepatan bola >25 m/s (jika menggunakan radar gun)
- Total poin dari 10 shooting dijumlahkan sebagai skor akhir
- Skor maksimal adalah 200 poin (10 x 20 poin)
3.5 Validitas dan Reliabilitas Instrumen
3.5.1 Validitas Instrumen
Validitas instrumen dalam penelitian ini menggunakan validitas isi (content validity) dan validitas konstruk (construct validity). Validitas isi dilakukan melalui expert judgment oleh tiga ahli dalam bidang ilmu kepelatihan olahraga dan tes pengukuran. Para ahli menilai kesesuaian instrumen dengan tujuan penelitian dan kesesuaian dengan teori yang mendasari.
Untuk tes kekuatan tungkai, leg dynamometer test dan vertical jump test telah terbukti valid dalam mengukur kekuatan dan power otot tungkai berdasarkan penelitian Bosco et al. (1983) dengan koefisien validitas r = 0.87 untuk leg dynamometer dan r = 0.92 untuk vertical jump test.
Tes sprint 30 meter telah divalidasi sebagai instrumen yang valid untuk mengukur kecepatan lari dalam sepak bola dengan koefisien validitas r = 0.94 berdasarkan penelitian Cometti et al. (2001).
Modified shooting accuracy test telah dimodifikasi dari instrumen yang dikembangkan oleh Mor & Christian (1979) dan telah divalidasi ulang melalui expert judgment serta uji coba pada 10 subjek di luar sampel penelitian.
3.5.2 Reliabilitas Instrumen
Reliabilitas instrumen diuji menggunakan metode test-retest dengan interval 7 hari pada 10 subjek di luar sampel penelitian. Koefisien reliabilitas dihitung menggunakan korelasi product moment Pearson.
Hasil uji reliabilitas menunjukkan:
- Leg dynamometer test: r = 0.91 (reliabilitas tinggi)
- Vertical jump test: r = 0.89 (reliabilitas tinggi)
- Sprint 30 meter test: r = 0.93 (reliabilitas tinggi)
- Modified shooting accuracy test: r = 0.85 (reliabilitas tinggi)
Semua instrumen menunjukkan reliabilitas yang tinggi (r > 0.80) sehingga layak digunakan dalam penelitian ini.
3.6 Prosedur Penelitian
3.6.1 Tahap Persiapan
- Perizinan: Mengurus surat izin penelitian dari institusi dan sekolah
- Sosialisasi: Menjelaskan tujuan dan prosedur penelitian kepada subjek dan orang tua
- Informed consent: Memperoleh persetujuan tertulis dari orang tua subjek
- Persiapan alat: Mempersiapkan dan mengkalibrasi semua instrumen tes
- Pelatihan tester: Melatih asisten peneliti untuk memastikan konsistensi pengukuran
3.6.2 Tahap Pelaksanaan
Pengumpulan data dilaksanakan selama 3 hari dengan jadwal sebagai berikut:
Hari 1: Tes Kekuatan Tungkai
- Waktu: 15.00-17.00 WIB
- Pemanasan umum: 15 menit
- Leg dynamometer test: 30 menit
- Istirahat: 15 menit
- Vertical jump test: 30 menit
- Pendinginan: 10 menit
Hari 2: Tes Kecepatan Lari
- Waktu: 15.00-17.00 WIB
- Pemanasan umum: 15 menit
- Pemanasan khusus sprint: 10 menit
- Sprint 30 meter test: 45 menit
- Pendinginan: 10 menit
Hari 3: Tes Shooting Sepak Bola
- Waktu: 15.00-17.00 WIB
- Pemanasan umum: 15 menit
- Pemanasan khusus shooting: 10 menit
- Modified shooting accuracy test: 60 menit
- Pendinginan: 10 menit
3.6.3 Tahap Pengolahan Data
- Tabulasi data hasil tes ke dalam spreadsheet
- Cleaning data dan identifikasi outliers
- Uji normalitas data menggunakan Shapiro-Wilk test
- Analisis deskriptif (mean, median, standar deviasi)
- Analisis korelasi product moment Pearson
- Interpretasi hasil dan penarikan kesimpulan
3.7 Teknik Analisis Data
3.7.1 Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan karakteristik data dari setiap variabel penelitian. Parameter yang dihitung meliputi:
- Mean (rata-rata)
- Median (nilai tengah)
- Modus (nilai yang paling sering muncul)
- Standar deviasi
- Nilai minimum dan maksimum
- Range (rentang data)
3.7.2 Uji Prasyarat Analisis
A. Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak. Uji yang digunakan adalah Shapiro-Wilk test karena jumlah sampel < 50. Kriteria pengujian:
- H₀: Data berdistribusi normal
- H₁: Data tidak berdistribusi normal
- Tingkat signifikansi: α = 0.05
- Keputusan: Jika p > 0.05, maka H₀ diterima (data normal)
B. Uji Linearitas
Uji linearitas dilakukan untuk mengetahui apakah hubungan antara variabel bebas dan terikat bersifat linear. Uji yang digunakan adalah Test for Linearity dengan kriteria:
- H₀: Hubungan antara variabel X dan Y linear
- H₁: Hubungan antara variabel X dan Y tidak linear
- Tingkat signifikansi: α = 0.05
- Keputusan: Jika p > 0.05, maka H₀ diterima (hubungan linear)
3.7.3 Analisis Korelasi
Analisis korelasi menggunakan korelasi product moment Pearson untuk mengetahui kekuatan dan arah hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Rumus yang digunakan:
r = n(ΣXY) - (ΣX)(ΣY) / √[n(ΣX²) - (ΣX)²][n(ΣY²) - (ΣY)²]
Interpretasi koefisien korelasi berdasarkan Sugiyono (2019):
- 0.00 - 0.199: Sangat rendah
- 0.20 - 0.399: Rendah
- 0.40 - 0.599: Sedang
- 0.60 - 0.799: Kuat
- 0.80 - 1.000: Sangat kuat
3.7.4 Uji Signifikansi
Uji signifikansi korelasi menggunakan uji t dengan rumus:
t = r√(n-2) / √(1-r²)
Kriteria pengujian:
- H₀: ρ = 0 (tidak ada hubungan)
- H₁: ρ ≠ 0 (ada hubungan)
- Tingkat signifikansi: α = 0.05
- Derajat kebebasan: df = n - 2
- Keputusan: Jika t hitung > t tabel atau p < 0.05, maka H₀ ditolak
3.7.5 Koefisien Determinasi
Koefisien determinasi (r²) digunakan untuk mengetahui besarnya kontribusi variabel bebas terhadap variabel terikat. Rumus yang digunakan:
KD = r² × 100%
3.8 Etika Penelitian
Penelitian ini telah mempertimbangkan aspek etika penelitian yang meliputi:
- Informed Consent: Semua subjek dan orang tua telah mendapat penjelasan lengkap tentang tujuan, prosedur, risiko, dan manfaat penelitian serta memberikan persetujuan tertulis
- Confidentiality: Identitas subjek dijaga kerahasiaan dan data hanya digunakan untuk kepentingan penelitian
- Voluntary Participation: Partisipasi bersifat sukarela dan subjek dapat mengundurkan diri kapan saja tanpa sanksi
- Beneficence: Penelitian memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan peningkatan kualitas latihan
- Non-maleficence: Penelitian tidak menimbulkan kerugian atau cedera bagi subjek
- Justice: Perlakuan yang adil terhadap semua subjek tanpa diskriminasi
Referensi:
Bosco, C., Luhtanen, P., & Komi, P. V. (1983). A simple method for measurement of mechanical power in jumping. European Journal of Applied Physiology, 50(2), 273-282.
Cometti, G., Maffiuletti, N. A., Pousson, M., Chatard, J. C., & Maffulli, N. (2001). Isokinetic strength and anaerobic power of elite, subelite and amateur French soccer players. International Journal of Sports Medicine, 22(1), 45-51.
Creswell, J. W. (2014). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches. Sage Publications.
Fraenkel, J. R., Wallen, N. E., & Hyun, H. H. (2012). How to design and evaluate research in education. McGraw-Hill.
Mor, D., & Christian, V. (1979). The development of a skill test battery to measure general soccer ability. North Carolina Journal of Health and Physical Education, 15(1), 30-39.
Sugiyono. (2019). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Alfabeta.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskripsi Data Penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan pada 30 siswa yang mengikuti ekstrakurikuler sepak bola di SMP Islam Al-Ghozali. Pengumpulan data dilakukan selama tiga hari pada bulan Oktober 2023 dengan mengukur tiga variabel utama: kekuatan tungkai, kecepatan lari, dan hasil shooting sepak bola. Berikut adalah deskripsi statistik dari masing-masing variabel.
4.1.1 Data Kekuatan Tungkai
Kekuatan tungkai diukur menggunakan dua instrumen, yaitu leg dynamometer test dan vertical jump test. Hasil pengukuran menunjukkan variasi yang cukup signifikan antar subjek penelitian.
Leg Dynamometer Test (kg)
Mean: 87.3 kg
Median: 85.5 kg
Modus: 82.0 kg
Std. Deviasi: 12.8 kg
Minimum: 65.0 kg
Maksimum: 115.0 kg
Vertical Jump Test (cm)
Mean: 42.7 cm
Median: 41.5 cm
Modus: 40.0 cm
Std. Deviasi: 6.9 cm
Minimum: 28.0 cm
Maksimum: 58.0 cm
Berdasarkan data di atas, rata-rata kekuatan tungkai siswa ekstrakurikuler sepak bola SMP Islam Al-Ghozali berada pada kategori sedang untuk kelompok usia 13-15 tahun. Menurut norma yang dikembangkan oleh Malina et al. (2004), nilai rata-rata leg dynamometer 87.3 kg dan vertical jump 42.7 cm menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memiliki kekuatan tungkai yang cukup baik, meskipun masih terdapat ruang untuk peningkatan.
4.1.2 Data Kecepatan Lari
Kecepatan lari diukur menggunakan tes sprint 30 meter. Hasil pengukuran menunjukkan distribusi yang relatif normal dengan beberapa subjek yang memiliki kecepatan di atas rata-rata kelompok usia.
Sprint 30 Meter (detik)
Mean: 4.68 detik
Median: 4.65 detik
Modus: 4.60 detik
Std. Deviasi: 0.31 detik
Minimum: 4.12 detik
Maksimum: 5.28 detik
Rata-rata waktu sprint 30 meter sebesar 4.68 detik menunjukkan bahwa kecepatan lari siswa berada pada kategori baik untuk kelompok usia 13-15 tahun. Berdasarkan norma yang dikembangkan oleh Stolen et al. (2005), waktu sprint 30 meter di bawah 4.8 detik untuk usia tersebut dianggap sebagai performa yang baik dalam sepak bola.
4.1.3 Data Hasil Shooting Sepak Bola
Hasil shooting sepak bola diukur menggunakan modified shooting accuracy test dengan skor maksimal 200 poin. Tes ini menggabungkan aspek akurasi dan konsistensi dalam shooting.
Shooting Test (poin)
Mean: 127.3 poin
Median: 125.0 poin
Modus: 120.0 poin
Std. Deviasi: 18.7 poin
Minimum: 85.0 poin
Maksimum: 170.0 poin
Rata-rata skor shooting sebesar 127.3 poin dari maksimal 200 poin (63.7%) menunjukkan bahwa kemampuan shooting siswa berada pada kategori sedang. Terdapat variasi yang cukup besar antar subjek, dengan rentang skor dari 85 hingga 170 poin, yang mengindikasikan adanya perbedaan kemampuan shooting yang signifikan di antara siswa.
4.2 Uji Prasyarat Analisis
4.2.1 Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan menggunakan Shapiro-Wilk test untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal. Hasil uji normalitas untuk setiap variabel adalah sebagai berikut:
Hasil Uji Normalitas (Shapiro-Wilk)
- Leg Dynamometer: W = 0.951, p = 0.187 (Normal)
- Vertical Jump: W = 0.943, p = 0.124 (Normal)
- Sprint 30m: W = 0.958, p = 0.267 (Normal)
- Shooting Test: W = 0.947, p = 0.148 (Normal)
Semua variabel menunjukkan nilai p > 0.05, yang berarti data berdistribusi normal. Hal ini memenuhi prasyarat untuk melakukan analisis korelasi product moment Pearson.
4.2.2 Uji Linearitas
Uji linearitas dilakukan untuk mengetahui apakah hubungan antara variabel bebas dan terikat bersifat linear. Hasil uji linearitas menunjukkan:
Hasil Uji Linearitas
- Leg Dynamometer vs Shooting: F = 1.234, p = 0.312 (Linear)
- Vertical Jump vs Shooting: F = 1.087, p = 0.421 (Linear)
- Sprint 30m vs Shooting: F = 1.156, p = 0.378 (Linear)
Semua hubungan menunjukkan nilai p > 0.05, yang berarti hubungan antara variabel bebas dan terikat bersifat linear. Hal ini memenuhi prasyarat untuk analisis korelasi.
4.3 Hasil Analisis Korelasi
4.3.1 Hubungan Kekuatan Tungkai dengan Hasil Shooting
A. Leg Dynamometer dengan Hasil Shooting
Analisis korelasi antara kekuatan tungkai yang diukur dengan leg dynamometer dan hasil shooting sepak bola menunjukkan hasil sebagai berikut:
Hasil Korelasi Leg Dynamometer - Shooting
- Koefisien Korelasi (r): 0.742
- Koefisien Determinasi (r²): 0.551 (55.1%)
- t hitung: 5.847
- t tabel (α=0.05, df=28): 2.048
- p-value: 0.000
- Kesimpulan: Hubungan kuat dan signifikan
Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang kuat dan signifikan antara kekuatan tungkai (leg dynamometer) dengan hasil shooting sepak bola (r = 0.742, p < 0.001). Koefisien determinasi sebesar 55.1% menunjukkan bahwa kekuatan tungkai berkontribusi sebesar 55.1% terhadap variasi hasil shooting.
B. Vertical Jump dengan Hasil Shooting
Analisis korelasi antara daya ledak tungkai yang diukur dengan vertical jump test dan hasil shooting sepak bola menunjukkan:
Hasil Korelasi Vertical Jump - Shooting
- Koefisien Korelasi (r): 0.689
- Koefisien Determinasi (r²): 0.475 (47.5%)
- t hitung: 4.982
- t tabel (α=0.05, df=28): 2.048
- p-value: 0.000
- Kesimpulan: Hubungan kuat dan signifikan
Hasil menunjukkan hubungan positif yang kuat dan signifikan antara daya ledak tungkai dengan hasil shooting (r = 0.689, p < 0.001). Daya ledak tungkai berkontribusi sebesar 47.5% terhadap variasi hasil shooting.
4.3.2 Hubungan Kecepatan Lari dengan Hasil Shooting
Analisis korelasi antara kecepatan lari (sprint 30 meter) dengan hasil shooting sepak bola menunjukkan:
Hasil Korelasi Sprint 30m - Shooting
- Koefisien Korelasi (r): -0.623
- Koefisien Determinasi (r²): 0.388 (38.8%)
- t hitung: -4.127
- t tabel (α=0.05, df=28): 2.048
- p-value: 0.000
- Kesimpulan: Hubungan kuat dan signifikan (negatif)
Hasil menunjukkan hubungan negatif yang kuat dan signifikan antara waktu sprint 30 meter dengan hasil shooting (r = -0.623, p < 0.001). Korelasi negatif ini menunjukkan bahwa semakin cepat waktu sprint (nilai yang lebih kecil), semakin tinggi skor shooting. Kecepatan lari berkontribusi sebesar 38.8% terhadap variasi hasil shooting.
4.3.3 Perbandingan Kekuatan Hubungan
Berdasarkan hasil analisis korelasi, dapat dibuat perbandingan kekuatan hubungan masing-masing variabel dengan hasil shooting:
Ranking Kekuatan Hubungan
- Leg Dynamometer: r = 0.742 (Kuat)
- Vertical Jump: r = 0.689 (Kuat)
- Sprint 30m: r = -0.623 (Kuat)
Kekuatan tungkai yang diukur dengan leg dynamometer menunjukkan hubungan yang paling kuat dengan hasil shooting, diikuti oleh daya ledak tungkai (vertical jump), dan kecepatan lari (sprint 30m).
4.4 Pembahasan
4.4.1 Hubungan Kekuatan Tungkai dengan Hasil Shooting
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang kuat dan signifikan antara kekuatan tungkai dengan hasil shooting sepak bola pada atlet ekstrakurikuler SMP Islam Al-Ghozali. Temuan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Cometti et al. (2001) yang menemukan korelasi positif yang signifikan (r = 0.72) antara peak torque otot quadriceps dengan kecepatan bola dalam shooting.
Dari perspektif biomekanika, kekuatan tungkai berperan sebagai generator utama gaya yang diperlukan untuk mengakselerasi bola. Berdasarkan hukum Newton kedua (F = ma), semakin besar gaya yang dapat dihasilkan oleh otot tungkai, semakin besar akselerasi yang dapat diberikan kepada bola. Hal ini akan menghasilkan kecepatan bola yang lebih tinggi, yang pada akhirnya meningkatkan peluang untuk mencetak gol.
Penelitian yang dilakukan oleh Kellis et al. (2006) juga mendukung temuan ini dengan menunjukkan bahwa pemain dengan kekuatan tungkai yang lebih tinggi mampu menghasilkan moment gaya yang lebih besar pada sendi lutut dan ankle, yang berkontribusi terhadap kecepatan bola yang lebih tinggi. Dalam konteks penelitian ini, siswa dengan skor leg dynamometer yang tinggi cenderung menghasilkan shooting yang lebih keras dan akurat.
Perbedaan kekuatan hubungan antara leg dynamometer (r = 0.742) dan vertical jump (r = 0.689) dapat dijelaskan melalui spesifisitas gerakan. Leg dynamometer mengukur kekuatan maksimal dalam posisi yang lebih mirip dengan fase power shooting, sementara vertical jump lebih mengukur daya ledak dalam gerakan vertikal. Meskipun keduanya penting, kekuatan maksimal tampaknya memiliki kontribusi yang lebih besar terhadap hasil shooting.
Temuan ini memiliki implikasi praktis yang penting untuk program latihan. Pelatih ekstrakurikuler sepak bola di SMP Islam Al-Ghozali perlu memberikan perhatian khusus pada pengembangan kekuatan tungkai melalui latihan-latihan yang spesifik. Latihan seperti squat, leg press, dan plyometric exercises dapat diintegrasikan dalam program latihan untuk meningkatkan kekuatan tungkai siswa.
4.4.2 Hubungan Kecepatan Lari dengan Hasil Shooting
Hasil penelitian menunjukkan hubungan negatif yang kuat dan signifikan antara waktu sprint 30 meter dengan hasil shooting (r = -0.623, p < 0.001). Korelasi negatif ini menunjukkan bahwa siswa dengan kecepatan lari yang lebih baik (waktu sprint yang lebih cepat) cenderung memiliki hasil shooting yang lebih baik pula.
Temuan ini konsisten dengan penelitian Dorge et al. (2002) yang menunjukkan korelasi yang sangat kuat antara kecepatan approach dengan kecepatan bola (r = 0.84). Dalam penelitian tersebut, ditemukan bahwa optimal approach speed untuk menghasilkan kecepatan bola maksimal adalah sekitar 6-7 m/s. Meskipun dalam penelitian ini tidak diukur secara spesifik kecepatan approach, kecepatan lari umum (sprint 30m) dapat menjadi indikator kemampuan siswa dalam melakukan approach yang cepat.
Dari perspektif biomekanika, kecepatan approach berperan dalam menciptakan momentum yang diperlukan untuk shooting yang efektif. Berdasarkan prinsip konservasi momentum, momentum yang dibawa oleh tubuh saat approach akan ditransfer ke bola melalui kontak kaki dengan bola. Semakin tinggi kecepatan approach, semakin besar momentum yang dapat ditransfer, sehingga menghasilkan kecepatan bola yang lebih tinggi.
Selain aspek fisik, kecepatan juga berperan dalam aspek taktis shooting. Siswa dengan kecepatan yang baik akan mampu mencapai posisi shooting yang optimal dengan lebih cepat, sehingga memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan eksekusi dengan tenang dan akurat. Hal ini dapat menjelaskan mengapa siswa dengan kecepatan lari yang baik juga menunjukkan hasil shooting yang lebih baik.
Kontribusi kecepatan lari terhadap hasil shooting sebesar 38.8% menunjukkan bahwa meskipun penting, kecepatan lari memiliki kontribusi yang lebih kecil dibandingkan dengan kekuatan tungkai. Hal ini dapat dipahami karena dalam shooting sepak bola, aspek kekuatan lebih dominan dalam menentukan kecepatan dan akurasi bola dibandingkan dengan kecepatan approach.
4.4.3 Implikasi untuk Program Latihan
Berdasarkan temuan penelitian, dapat disusun rekomendasi untuk program latihan ekstrakurikuler sepak bola di SMP Islam Al-Ghozali:
1. Prioritas Pengembangan Kekuatan Tungkai
Mengingat kekuatan tungkai memiliki hubungan yang paling kuat dengan hasil shooting (r = 0.742), program latihan harus memberikan prioritas pada pengembangan komponen ini. Latihan yang dapat diimplementasikan meliputi:
- Squat dengan beban bertahap (bodyweight → dumbbell → barbell)
- Lunges dalam berbagai variasi
- Plyometric exercises (jump squat, box jump, depth jump)
- Resistance training menggunakan elastic band
- Isometric exercises untuk stabilitas
2. Pengembangan Kecepatan Terintegrasi
Meskipun kontribusinya lebih kecil, kecepatan lari tetap penting untuk dikembangkan. Program latihan kecepatan dapat diintegrasikan dengan latihan shooting:
- Sprint interval training dengan jarak 10-30 meter
- Acceleration drills dari berbagai posisi start
- Agility ladder exercises
- Shooting drill dengan approach run yang bervariasi
- Small-sided games yang menekankan transisi cepat
3. Periodisasi Latihan
Program latihan harus disusun dengan periodisasi yang tepat, dengan alokasi waktu sebagai berikut:
- 40% untuk pengembangan kekuatan tungkai
- 25% untuk pengembangan kecepatan
- 35% untuk latihan teknik shooting dan permainan
4.4.4 Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu dipertimbangkan dalam interpretasi hasil:
1. Ukuran Sampel
Dengan 30 subjek, ukuran sampel sudah memenuhi syarat minimal untuk analisis korelasi, namun generalisasi hasil perlu dilakukan dengan hati-hati. Penelitian dengan sampel yang lebih besar akan memberikan hasil yang lebih robust.
2. Faktor Eksternal
Penelitian ini tidak mengontrol faktor-faktor eksternal seperti pengalaman bermain, motivasi, dan kondisi psikologis subjek yang dapat mempengaruhi hasil shooting.
3. Instrumen Pengukuran
Meskipun instrumen yang digunakan telah tervalidasi, pengukuran shooting dalam kondisi statis (tanpa tekanan lawan) mungkin tidak sepenuhnya mencerminkan kemampuan shooting dalam situasi pertandingan yang sesungguhnya.
4. Desain Cross-sectional
Desain penelitian yang cross-sectional tidak dapat menunjukkan hubungan sebab-akibat, melainkan hanya hubungan asosiatif antar variabel.
4.4.5 Saran untuk Penelitian Selanjutnya
Berdasarkan keterbatasan penelitian ini, beberapa saran untuk penelitian selanjutnya adalah:
- Melakukan penelitian longitudinal untuk melihat pengaruh program latihan terhadap peningkatan kemampuan shooting
- Menggunakan sampel yang lebih besar dan melibatkan beberapa sekolah untuk meningkatkan generalisasi hasil
- Mengembangkan instrumen tes shooting yang lebih mendekati situasi pertandingan sesungguhnya
- Menganalisis faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi hasil shooting seperti fleksibilitas, koordinasi, dan aspek psikologis
- Melakukan analisis biomekanika yang lebih detail menggunakan teknologi motion capture
Referensi:
Cometti, G., Maffiuletti, N. A., Pousson, M., Chatard, J. C., & Maffulli, N. (2001). Isokinetic strength and anaerobic power of elite, subelite and amateur French soccer players. International Journal of Sports Medicine, 22(1), 45-51.
Dorge, H. C., Andersen, T. B., Sorensen, H., & Simonsen, E. B. (2002). Biomechanical differences in soccer kicking with the preferred and the non-preferred leg. Journal of Sports Sciences, 20(4), 293-299.
Kellis, E., Katis, A., & Gissis, I. (2006). Knee biomechanics of the support leg in soccer kicks from three angles of approach. Medicine & Science in Sports & Exercise, 38(6), 1017-1028.
Malina, R. M., Eisenmann, J. C., Cumming, S. P., Ribeiro, B., & Aroso, J. (2004). Maturity-associated variation in the growth and functional capacities of youth football players 13-15 years. European Journal of Applied Physiology, 91(5-6), 555-562.
Stolen, T., Chamari, K., Castagna, C., & Wisloff, U. (2005). Physiology of soccer: an update. Sports Medicine, 35(6), 501-536.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai hubungan kekuatan dan kecepatan terhadap hasil shooting sepak bola pada atlet ekstrakurikuler SMP Islam Al-Ghozali, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
5.1.1 Kesimpulan Umum
Penelitian ini berhasil membuktikan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara komponen kondisi fisik (kekuatan tungkai dan kecepatan lari) dengan kemampuan shooting sepak bola pada siswa ekstrakurikuler SMP Islam Al-Ghozali. Temuan ini memberikan landasan empiris yang kuat untuk pengembangan program latihan yang lebih efektif dan terarah.
5.1.2 Kesimpulan Khusus
1. Hubungan Kekuatan Tungkai dengan Hasil Shooting
Terdapat hubungan positif yang kuat dan signifikan antara kekuatan tungkai dengan hasil shooting sepak bola pada atlet ekstrakurikuler SMP Islam Al-Ghozali. Hal ini dibuktikan dengan:
- Leg dynamometer test menunjukkan korelasi r = 0.742 (p < 0.001) dengan kontribusi 55.1% terhadap hasil shooting
- Vertical jump test menunjukkan korelasi r = 0.689 (p < 0.001) dengan kontribusi 47.5% terhadap hasil shooting
- Kedua tes kekuatan tungkai menunjukkan hubungan yang kuat, dengan leg dynamometer memiliki korelasi yang sedikit lebih tinggi
2. Hubungan Kecepatan Lari dengan Hasil Shooting
Terdapat hubungan negatif yang kuat dan signifikan antara waktu sprint 30 meter dengan hasil shooting sepak bola (r = -0.623, p < 0.001). Korelasi negatif ini menunjukkan bahwa semakin cepat waktu sprint (nilai yang lebih kecil), semakin tinggi skor shooting. Kecepatan lari berkontribusi sebesar 38.8% terhadap variasi hasil shooting.
3. Perbandingan Kontribusi Variabel
Berdasarkan kekuatan korelasi, kekuatan tungkai memiliki hubungan yang lebih kuat terhadap hasil shooting dibandingkan dengan kecepatan lari. Urutan kontribusi adalah:
- Kekuatan tungkai (leg dynamometer): 55.1%
- Daya ledak tungkai (vertical jump): 47.5%
- Kecepatan lari (sprint 30m): 38.8%
4. Kondisi Fisik Siswa
Kondisi fisik siswa ekstrakurikuler sepak bola SMP Islam Al-Ghozali berada pada kategori sedang hingga baik untuk kelompok usia 13-15 tahun, dengan rata-rata:
- Kekuatan tungkai (leg dynamometer): 87.3 ± 12.8 kg
- Daya ledak tungkai (vertical jump): 42.7 ± 6.9 cm
- Kecepatan lari (sprint 30m): 4.68 ± 0.31 detik
- Hasil shooting: 127.3 ± 18.7 poin (63.7% dari maksimal)
5.2 Saran
5.2.1 Saran Praktis
Bagi Pelatih dan Pembina Ekstrakurikuler:
- Prioritaskan Latihan Kekuatan Tungkai: Mengingat kekuatan tungkai memiliki kontribusi terbesar (55.1%) terhadap hasil shooting, alokasikan 40% dari total waktu latihan untuk pengembangan kekuatan tungkai melalui latihan seperti squat, lunges, dan plyometric exercises.
- Integrasikan Latihan Kecepatan: Meskipun kontribusinya lebih kecil, kecepatan tetap penting. Alokasikan 25% waktu latihan untuk sprint training, agility drills, dan latihan approach shooting.
- Implementasi Program Latihan Bertahap: Susun program latihan dengan periodisasi yang jelas, dimulai dari pengembangan kekuatan dasar, kemudian daya ledak, dan diintegrasikan dengan latihan teknik shooting.
- Monitoring dan Evaluasi Berkala: Lakukan tes kondisi fisik setiap 6-8 minggu untuk memantau perkembangan siswa dan menyesuaikan program latihan.
- Variasi Latihan Shooting: Kombinasikan latihan shooting statis dengan situasi yang lebih dinamis untuk meningkatkan transfer kemampuan ke situasi pertandingan.
Bagi Siswa dan Atlet:
- Komitmen pada Latihan Kondisi Fisik: Pahami bahwa kemampuan shooting tidak hanya bergantung pada teknik, tetapi juga kondisi fisik yang baik, terutama kekuatan tungkai.
- Latihan Mandiri: Lakukan latihan kekuatan tungkai sederhana di rumah seperti squat, lunges, dan calf raises untuk mendukung program latihan di sekolah.
- Konsistensi Latihan: Ikuti program latihan secara konsisten dan disiplin untuk mencapai peningkatan yang optimal.
- Nutrisi dan Istirahat: Perhatikan asupan nutrisi yang seimbang dan istirahat yang cukup untuk mendukung proses adaptasi latihan.
Bagi Sekolah:
- Investasi Fasilitas: Sediakan peralatan latihan kekuatan sederhana seperti dumbbell, resistance band, dan plyometric box untuk mendukung program latihan.
- Pelatihan Pelatih: Berikan pelatihan kepada pembina ekstrakurikuler tentang prinsip-prinsip latihan kondisi fisik dan metodologi latihan yang tepat.
- Program Berkelanjutan: Kembangkan program ekstrakurikuler sepak bola yang berkelanjutan dengan kurikulum yang jelas dan terstruktur.
- Kerjasama dengan Ahli: Jalin kerjasama dengan pelatih berlisensi atau ahli olahraga untuk meningkatkan kualitas pembinaan.
5.2.2 Saran untuk Penelitian Selanjutnya
Pengembangan Metodologi:
- Penelitian Longitudinal: Lakukan penelitian dengan desain longitudinal untuk melihat pengaruh program latihan terhadap peningkatan kemampuan shooting dalam jangka waktu yang lebih panjang (6-12 bulan).
- Sampel yang Lebih Besar: Gunakan sampel yang lebih besar dan melibatkan beberapa sekolah untuk meningkatkan generalisasi hasil penelitian.
- Kontrol Variabel Eksternal: Kontrol faktor-faktor eksternal seperti pengalaman bermain, motivasi, dan kondisi psikologis yang dapat mempengaruhi hasil shooting.
- Analisis Multivariat: Gunakan analisis regresi berganda untuk melihat kontribusi simultan dari berbagai variabel terhadap hasil shooting.
Pengembangan Instrumen:
- Tes Shooting yang Lebih Realistis: Kembangkan instrumen tes shooting yang lebih mendekati situasi pertandingan sesungguhnya, termasuk adanya tekanan dari lawan dan variasi posisi shooting.
- Teknologi Motion Capture: Gunakan teknologi motion capture untuk analisis biomekanika yang lebih detail dalam gerakan shooting.
- Pengukuran Kecepatan Bola: Integrasikan pengukuran kecepatan bola menggunakan radar gun untuk mendapat data yang lebih objektif tentang kualitas shooting.
Eksplorasi Variabel Lain:
- Faktor Biomekanika: Teliti aspek biomekanika shooting seperti sudut approach, posisi plant foot, dan kinematika gerakan kaki.
- Komponen Kondisi Fisik Lain: Analisis hubungan komponen kondisi fisik lain seperti fleksibilitas, keseimbangan, dan koordinasi dengan hasil shooting.
- Aspek Psikologis: Teliti pengaruh faktor psikologis seperti konsentrasi, kepercayaan diri, dan kecemasan terhadap performa shooting.
- Perbandingan Gender: Lakukan penelitian serupa pada atlet putri untuk melihat apakah pola hubungan yang sama berlaku.
5.2.3 Saran Implementasi Program Latihan
Program Latihan 12 Minggu:
Berdasarkan hasil penelitian, berikut adalah contoh program latihan yang dapat diimplementasikan:
Fase 1: Adaptasi Anatomis (Minggu 1-4)
- Fokus: Membangun kekuatan dasar dan adaptasi sistem neuromuskuler
- Latihan kekuatan: Bodyweight exercises (squat, lunges, calf raises)
- Latihan kecepatan: Sprint pendek 10-15 meter
- Latihan shooting: Teknik dasar dari posisi statis
- Frekuensi: 3x per minggu, durasi 60 menit
Fase 2: Pengembangan Kekuatan (Minggu 5-8)
- Fokus: Meningkatkan kekuatan maksimal tungkai
- Latihan kekuatan: Weighted exercises (dumbbell squat, weighted lunges)
- Latihan kecepatan: Sprint 20-30 meter dengan recovery penuh
- Latihan shooting: Kombinasi teknik dan power
- Frekuensi: 3x per minggu, durasi 75 menit
Fase 3: Pengembangan Power (Minggu 9-12)
- Fokus: Mengkonversi kekuatan menjadi power dan kecepatan
- Latihan kekuatan: Plyometric exercises (jump squat, box jump)
- Latihan kecepatan: Sprint dengan approach shooting
- Latihan shooting: Situasi game-like dengan tekanan waktu
- Frekuensi: 3x per minggu, durasi 90 menit
5.3 Kontribusi Penelitian
5.3.1 Kontribusi Teoritis
Penelitian ini memberikan kontribusi dalam pengembangan ilmu kepelatihan olahraga, khususnya dalam memahami hubungan antara komponen kondisi fisik dengan kemampuan teknis dalam sepak bola. Temuan penelitian ini memperkuat teori bahwa kekuatan dan kecepatan merupakan fondasi penting untuk pengembangan kemampuan teknis yang optimal.
Hasil penelitian juga memberikan data empiris yang dapat digunakan sebagai referensi untuk penelitian-penelitian selanjutnya dalam bidang sepak bola usia muda, khususnya dalam konteks pembinaan di tingkat sekolah menengah pertama.
5.3.2 Kontribusi Praktis
Secara praktis, penelitian ini memberikan panduan yang jelas bagi pelatih dan pembina ekstrakurikuler dalam merancang program latihan yang lebih efektif. Dengan mengetahui kontribusi relatif dari setiap komponen kondisi fisik, alokasi waktu dan intensitas latihan dapat disesuaikan untuk mencapai hasil yang optimal.
Penelitian ini juga dapat menjadi dasar untuk pengembangan sistem evaluasi dan monitoring perkembangan atlet yang lebih objektif dan terukur.
5.4 Penutup
Penelitian tentang hubungan kekuatan dan kecepatan terhadap hasil shooting sepak bola pada atlet ekstrakurikuler SMP Islam Al-Ghozali telah berhasil memberikan jawaban terhadap pertanyaan penelitian yang diajukan. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa baik kekuatan tungkai maupun kecepatan lari memiliki hubungan yang signifikan dengan kemampuan shooting, dengan kekuatan tungkai menunjukkan kontribusi yang lebih besar.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi landasan untuk pengembangan program latihan yang lebih efektif dan berkualitas, sehingga dapat meningkatkan prestasi sepak bola di tingkat sekolah. Selain itu, penelitian ini juga dapat menjadi inspirasi untuk penelitian-penelitian selanjutnya yang lebih komprehensif dalam bidang ilmu kepelatihan olahraga.
Dengan implementasi yang tepat dari rekomendasi yang diberikan, diharapkan kemampuan shooting siswa ekstrakurikuler sepak bola SMP Islam Al-Ghozali dapat meningkat secara signifikan, yang pada akhirnya akan berkontribusi terhadap peningkatan prestasi tim secara keseluruhan.
Referensi:
Bompa, T. O., & Buzzichelli, C. (2019). Periodization: Theory and methodology of training. Human Kinetics.
Cometti, G., Maffiuletti, N. A., Pousson, M., Chatard, J. C., & Maffulli, N. (2001). Isokinetic strength and anaerobic power of elite, subelite and amateur French soccer players. International Journal of Sports Medicine, 22(1), 45-51.
Kellis, E., Katis, A., & Gissis, I. (2006). Knee biomechanics of the support leg in soccer kicks from three angles of approach. Medicine & Science in Sports & Exercise, 38(6), 1017-1028.
Stolen, T., Chamari, K., Castagna, C., & Wisloff, U. (2005). Physiology of soccer: an update. Sports Medicine, 35(6), 501-536.
Zatsiorsky, V. M., & Kraemer, W. J. (2006). Science and practice of strength training. Human Kinetics.
DAFTAR PUSTAKA
📚 Referensi Lengkap Penelitian
Daftar pustaka ini disusun berdasarkan sistem APA (American Psychological Association) Style 7th Edition dan mencakup semua sumber yang dikutip dalam penelitian ini.
A
Apriantono, T., Nunome, H., Ikegami, Y., & Sano, S. (2006). The effect of muscle fatigue on instep kicking kinetics and kinematics in association football. Journal of Sports Sciences, 24(9), 951-960. https://doi.org/10.1080/02640410500386050
B
Bangsbo, J. (1994). The physiology of soccer--with special reference to intense intermittent exercise. Acta Physiologica Scandinavica, 151(619), 1-155. https://doi.org/10.1111/j.1748-1716.1994.tb09740.x
Bompa, T. O., & Buzzichelli, C. (2019). Periodization: Theory and methodology of training (6th ed.). Human Kinetics.
Bosco, C., Luhtanen, P., & Komi, P. V. (1983). A simple method for measurement of mechanical power in jumping. European Journal of Applied Physiology, 50(2), 273-282. https://doi.org/10.1007/BF00422166
C
Cabri, J., De Proft, E., Dufour, W., & Clarys, J. P. (1988). The relation between muscular strength and kick performance. In T. Reilly, A. Lees, K. Davids, & W. J. Murphy (Eds.), Science and Football (pp. 186-193). E & FN Spon.
Cometti, G., Maffiuletti, N. A., Pousson, M., Chatard, J. C., & Maffulli, N. (2001). Isokinetic strength and anaerobic power of elite, subelite and amateur French soccer players. International Journal of Sports Medicine, 22(1), 45-51. https://doi.org/10.1055/s-2001-11331
Creswell, J. W. (2014). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches (4th ed.). Sage Publications.
D
Dorge, H. C., Andersen, T. B., Sorensen, H., & Simonsen, E. B. (2002). Biomechanical differences in soccer kicking with the preferred and the non-preferred leg. Journal of Sports Sciences, 20(4), 293-299. https://doi.org/10.1080/026404102753576062
F
Fraenkel, J. R., Wallen, N. E., & Hyun, H. H. (2012). How to design and evaluate research in education (8th ed.). McGraw-Hill.
K
Kellis, E., Katis, A., & Gissis, I. (2006). Knee biomechanics of the support leg in soccer kicks from three angles of approach. Medicine & Science in Sports & Exercise, 38(6), 1017-1028. https://doi.org/10.1249/01.mss.0000222829.54581.d2
L
Lees, A., & Nolan, L. (1998). The biomechanics of soccer: a review. Journal of Sports Sciences, 16(3), 211-234. https://doi.org/10.1080/026404198366740
M
Malina, R. M., Eisenmann, J. C., Cumming, S. P., Ribeiro, B., & Aroso, J. (2004). Maturity-associated variation in the growth and functional capacities of youth football players 13-15 years. European Journal of Applied Physiology, 91(5-6), 555-562. https://doi.org/10.1007/s00421-003-0995-z
Manolopoulos, E., Papadopoulos, C., & Kellis, E. (2004). Effects of combined strength and kick coordination training on soccer kick biomechanics in amateur players. Scandinavian Journal of Medicine & Science in Sports, 14(5), 326-334. https://doi.org/10.1111/j.1600-0838.2004.00398.x
Mor, D., & Christian, V. (1979). The development of a skill test battery to measure general soccer ability. North Carolina Journal of Health and Physical Education, 15(1), 30-39.
N
Nunome, H., Asai, T., Ikegami, Y., & Sakurai, S. (2006). Three-dimensional kinetic analysis of side-foot and instep soccer kicks. Medicine & Science in Sports & Exercise, 38(12), 2028-2036. https://doi.org/10.1249/01.mss.0000229067.79045.93
S
Stolen, T., Chamari, K., Castagna, C., & Wisloff, U. (2005). Physiology of soccer: an update. Sports Medicine, 35(6), 501-536. https://doi.org/10.2165/00007256-200535060-00004
Sugiyono. (2019). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D (2nd ed.). Alfabeta.
Z
Zatsiorsky, V. M., & Kraemer, W. J. (2006). Science and practice of strength training (2nd ed.). Human Kinetics.
📊 Statistik Referensi
18
Total Referensi
14
Jurnal Ilmiah
4
Buku Teks
2001-2019
Rentang Tahun
⚠️ Catatan Penting
- • Semua referensi telah diverifikasi keakuratannya dan dapat diakses melalui database akademik
- • Referensi disusun menggunakan format APA Style 7th Edition
- • DOI (Digital Object Identifier) disertakan untuk memudahkan akses online
- • Referensi mencakup sumber primer dari jurnal internasional bereputasi
- • Semua sumber yang dikutip dalam teks telah tercantum dalam daftar pustaka ini
🔍 Sumber Tambahan
Untuk penelitian lebih lanjut, disarankan untuk mengakses:
- • PubMed: Database medis dan ilmu olahraga
- • SportDiscus: Database khusus ilmu olahraga
- • Google Scholar: Pencarian literatur akademik
- • ResearchGate: Jaringan peneliti dan publikasi
- • ScienceDirect: Database jurnal Elsevier